“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya!” (al-Ahzab: 56)

Exchange Links/Tukeran Links

Exchange Links: Tempat Exchange Links

Kamis, 05 Juli 2012

Jafar bin Abi Thalib

Berbeda dengan saudara-saudara Quraisy-nya yang lain yang rata-rata kaya raya dan merupakan kalangan bangsawan terkemuka. Abu Thalib yang merupakan paman nabi justru hidup kekurangan. Namun meski kurang mampu, Abu Thalib memiliki keluarga yang sangat besar sehingga ia kesulitan untuk menafkahi semua anggota keluarganya. Apalagi ketika Makkah didera kekeringan hebat yang membuat banyak orang kelaparan.

Pada saat kekeringan hebat itulah, Muhammad -- sebelum menjadi Rasul Allah -- berkata kepada pamannya yang lain, yaitu Abbas, untuk membantu kehidupan keluarga Abu Thalib. Bersama Abbas, Muhammad mengambil alih sebagian tanggungan Abu Thalib atas keluarganya.

Abu Thalib pun setuju dan merelakan anaknya diasuh oleh Muhammad dan Abbas. Muhammad mengambil Ali bin Abi Thalib sebagai tanggungannya, sementara Abbas mengambil Jafar bin Abi Thalib bersamanya. Anak yang lain, Aqeel, tetap diasuh Abu Thalib.

Dari sekian banyak keluarga klan Hashim, Jafar merupakan satu di antara lima anggota klan ini yang memiliki banyak kemiripan (secara fisik) dengan Muhammad SAW. Empat pria lainnya dari klan Hashim yang memiliki banyak kemiripan dengan Rasulullah SAW adalah Abu Sufyan bin Al Harist dan Qutham bin Al Abbas, keduanya adalah sepupu Rasulullah SAW. Juga As Saib bin Ubaid dan Hasan bin Ali yang merupakan cucu Rasulullah putera Ali dan Fatimah.

Setelah diangkat, Jafar tinggal bersama pamannya Abbas hingga ia beranjak dewasa. Setelah itu ia menikahi Asma binti Umays, saudara dari Maimunah yang kemudian menjadi istri Rasulullah. Bersama isterinya, Jafar menjadi salah seorang sahabat Rasul yang pertama kali masuk Islam.

Karena keyakinan dan keteguhan hatinya dengan Islam, orang Quraisy menjadikan kehidupan sosial pasangan ini sangat sulit. Orang Quraisy juga mencoba menhalangi keduanya untuk menjalankan ibadah.

Jafar kemudian pergi bertemu Rasulullah SAW dan meminta izin untuk pergi berhijrah ke Abyssinia (sekarang Ethiopia) bersama beberapa orang sahabat. Dengan penuh kesedihan, Rasulullah SAW pun memberikan izin kepada Jafar.

Kelompok Muhajirin yang dipimpin Jafar bin Abi Thalib ini kemudian meninggalkan Makkah dan pergi menuju Abbysinia. Di kota ini mereka hidup di bawah perlindungan Negus, pemimpin wilayah ini. Untuk pertama kalinya sejak menjadi Muslim, mereka menikmati kebebasan baik untuk mengakui agamanya dan melakukan ibadah tanpa diganggu.

Ketika berita kepergian kelompok ini diketahui orang Quraisy, mereka menjadi sangat marah. Apalagi mengetahui bahwa kelompok Muslim ini menjalani kehidupan yang aman dan damai di bawah perlindungan Negus. Karena itulah, orang Quraisy segara membuat rencana ekstradisi yang akan mengirim para Muslimin yang hijrah ini masuk penjara di Makkah.

Orang Quraisy kemudian mengirim dua orang wakilnya yang paling hebat yaitu Amr bin Al-Aas dan Abdullah bin Abi Rabiah. Keduanya dibekali dengan banyak hadiah dan wanita yang akan diberikan kepada Negus dan para wakilnya. Segala upaya dilakukan keduanya termasuk memfitnah umat Islam dan mengadudombanya dengan Negus.

Namun upaya mereka gagal. Di hadapan Negus dan para wakilnya, dengan fasih dan lancar, Jafar menjelaskan keyakinan yang ia anut bersama umat Islam lainnya. Ia menjelaskan alasan ketertarikannya pada Islam dan kenapa ia bersama umat Islam lainnya memutuskan untuk hijrah ke Abyssinia. Jafar juga menjelaskan dengan indah ajaran Islam yang ia anut termasuk membacakan ayat Alquran dari surat Maryam.

Mendengar penjelasan itu Negus mengerti. Ia bahkan menjanjikan siapapun yang mengganggu umat Islam akan berhadapan dengannya.

Jafar dan Asma menghabiskan waktu cukup lama di Abyssinia yang menjadi rumah kedua bagi mereka. Di tempat ini, Asma melahirkan tiga putra yang diberi nama Abdullah, Muhammad, dan Awn. Putra kedua mereka yang diberi nama Muhammad menjadi pria pertama dalam sejarah Islam yang diberi nama sama dengan nama Rasulullah SAW.

Pada tahun ketujuh hijrahnya, Jafar dan keluarganya meningalkan Abyssinia bersama sekelompok Muslim untuk menuju Madinah. Ketika mereka tiba, Rasulullah SAW baru saja kembali dari perang Khaybar.

Kedatangan Jafar membawa angin segar bagi umat Islam yang miskin. Tak butuh waktu lama untuk Jafar menjadi terkenal sebagai sahabat yang peduli dengan mereka yang miskin. Karena itulah ia kemudian dijuluki sebagai "Bapak Kaum Miskin".

Abu Hurairah menyebut bahwa orang yang paling peduli dan paling siap membantu mereka yang miskin adalah Jafar bin Abi Thalib. Begitu pedulinya Jafar, jika ia menemukan ada orang yang miskin dan kelaparan, ia akan segera pulang ke rumah dan memberi orang itu makanan yang ia punya, bahkan jika itu membuatnya harus menghabiskan jatah makannya.

Jafar tinggal di Madinah tidak terlalu lama. Pada awal tahun kedelapan, Rasulullah SAW memobilisasi pasukan untuk menghadapi pasukan Byzantinum di Suriah. Rasulullah SAW berencana menyerang pasukan ini karena salah satu sahabat yang dikirimnya ke Byzantinum untuk misi damai dibunuh dengan keji oleh gubernur daerah ini.

Rasulullah SAW lalu menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai panglima pasukan. Setelah itu Rasul menyatakan bahwa jika terjadi sesuatu pada Zaid selama pertempuran maka posisi itu akan digantikan oleh Jafar bin Abi Thalib, dan jika Jafar tewas, maka posisinya akan digantikan oleh Abdullah bin Rawahah.

Ketika pasukan Muslim mendekati Mutah, sebuah desa kecil di dekat perbukitan Yordania, mereka menemukan bahwa pasukan Byzantinum sudah menghimpun ribuan pasukan dengan menggunakan tameng umat Kristen Arab dari suku Lakhm, Judham, Qudaah, dan suku-suku lainnya. Sementara umat Muslim hanya terdiri dari tiga ribu orang prajurit.

Meskipun tidak seimbang, namun umat Islam tetap bertarung dengan penuh semangat. Zaid bin Haritshah menjadi salah satu yang pertama syahid dalam pertempuran itu.

Sesuai perintah Rasul, Jafar bin Abi Talib kemudian yang memegang komando. dengan penuh keberanian, ia menerjang pasukan Byzantinum. Ia pun syahid.
sumber:koran republika

Senin, 30 Januari 2012

Kisah Para Sahabat

Kisah Para Sahabat


- Orang Yang Disegani Para Malaikat
- Yang Punya Dua Cahaya (Dzunnurrain)
- Jafar bin Abi Thalib
-
-
-

Yang Punya Dua Cahaya (Dzunnurrain)

Yang Punya Dua Cahaya (Dzunnurrain)

Apakah pernah kita berpikir bagaimana beratnya menyalin lembaran lembaran Al Quran menjadi sebuah kitab yang satu,apalagi pada zaman sahabat Nabi SAW belum ada percetakan apalagi teknologi computer? Inilah salah satu ijtihad terbesar untuk menyelamatkan Al Quran demi menjaga kemurniannya. Adalah seorang sahabat Nabi yang juga menjadi menantunya punya pekerjaan besar ini.Beliau mendapat julukan Dzunnurrain (yang punya dua cahaya). Sebab digelari Dzunnuraian karena Rasulullah menikahkan dua putrinya untuknya; Roqqoyah dan Ummu Kultsum. Ketika Ummu Kultsum wafat, Rasulullah SAW bersabda; “Sekiranya kami punya anak perempuan yang ketiga, niscaya aku nikahkan denganmu.” Dia adalah Sahabat Utsman bin Affan r.a. Seorang saudagar yang kaya raya. Peternakannya juga sangat banyak dari kebanyakan orang arab. Beliau sangat dermawan dan juga sangat pemalu. Utsman bin Affan r.a berasal dari Bani Umayyah. Lahir pada tahun keenam tahun Gajah, lima tahun lebih muda dari Rasullulah SAW. Nama ibunya adalah Arwa binti Kuriz bin Rabiah. Beliau masuk Islam atas ajakan Abu Bakar. Beliau adalah salah satu sahabat besar dan utama Nabi Muhammad SAW, serta termasuk pula golongan as-Sabiqun al-Awwalin, yaitu orang-orang yang terdahulu Islam.
Sewaktu penyiksaan dan intimidasi dari Kaum Quraisy terhadap umat islam di Mekkah semakin berat maka atas perintah Rasulullah SAW Utsman bin Affan mempin rombongan hijrah ke Habsyah/ Ethiopia. Sahabat sahabat lain yang menyertainya antara lain Abu Khudzaifah, Zubir bin Awwam, Abdurahman bin Auf dan lain-lain. Tapi rupanya dakwah di Habsyah tidak berkembang dengan pesat. Kemudian datang perintah Rasulullah SAW untuk hijrah ke Madinah. Utsman bin Affan segera memenuhi seruan itu, ditinggalkan perniagaanya dan disumbangkan hartanya untuk perjuangan demi tegknya Islam.

Utsman bin Affan pernah diamanahi sebagai Gubernur Madinah sebanyak dua kali semasa Rasulullah SAW masih hidup, yaitu pada waktu perang Dzatir Riqa dan perang Ghatfahan. Beliau seorang yang dermawan.Banyak harta yang telah disumbangkan untuk perjuangan Islam, seperti :
1. Utsman bin Affan r.a membeli sumur dari seorang Yahudi seharga 200.000 dirham yang kira-kira sama dengan dua setengah kg emas. Sumur itu beliau wakafkan untuk kepentingan rakyat umum.
2. Memperluas Masjid Madinah dan membeli tanah disekitarnya.
3. Beliau mendermakan 1000 ekor unta dan 70 ekor kuda, ditambah 1000 dirham sumbangan pribadi untuk perang Tabuk, nilainya sama dengan sepertiga biaya ekspedisi tersebut.
4. Pada masa pemerintahan Abu Bakar,Utsman juga pernah memberikan gandum yang diangkut dengan 1000 unta untuk membantu kaum miskin yang menderita di musim kering.

Pada masa Khalifah Abu Bakar As-Siddiq ra, kaum Muslimin dilanda kemarau dahsyat. Mereka mendatangi Khalifah Abu Bakar dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, sudah lama sekali hujan tidak turun dan kemarau tidak berkesudahan apa yang harus kami lakukan untuk memenuhi kebutuhan kami?

Abu Bakar ra menjawab: “Pergilah dan sabarlah. Aku berharap sebelum tiba malam hari Allah akan meringankan kesulitan kalian.”
Pada petang harinya di Syam ada sebuah kafilah dengan 1,000 unta mengangkut beragam makanan berisi gandum, minyak dan kismis. Unta itu lalu di depan rumah Utsman bin Affan r.a, lalu mereka menurunkan muatannya. Tidak lama kemudian dating seorang saudgar kaya raya menemui Utsman, si pedagang kaya, dengan maksud ingin membeli barang itu.

Lalu Utsman berkata kepada mereka: “Berapa banyak keuntungan yang aku dapatkan bila engkau akan membelinya?
Mereka jawab: “Dua kali lipat.”
Utsman menjawab: “Sayang sekali, sudah ada penawaran yang jauh lebih tinggi.”
Pedagang itu kemudian menawarkan empat sampai lima kali lipat, tetapi Utsman menolak dengan alasan sudah ada penawar yang akan memberi lebih banyak.
Pedagang menjadi bingung lalu berkata lagi pada Utsman bin Affan r.a: “Wahai, Utsman, di Madinah tidak ada pedagang selain kami, dan tidak ada yang mendahului kami dalam penawaran. Siapa yang berani memberi lebih?” Utsman menjawab: Allah SWT memberi kepadaku 10 kali lipat, apakah kalian dapat memberi lebih dari itu?”
Mereka serentak menjawab: “Tidak!”
Utsman berkata lagi: “Aku menjadikan Allah sebagai saksi bahawa seluruh yang dibawa kafilah itu adalah sedekah kerana Allah, untuk fakir miskin daripada kaum muslimin.”

Petang hari itu juga Utsman ra membahagi-bahagikan seluruh makanan yang dibawa unta tadi kepada setiap fakir dan miskin. Mereka semua mendapat bahagian yang cukup untuk keperluan keluarganya masing-masing dalam jangka waktu yang lama.

Usman bin Affan adalah Khalifah yang ketiga setelah Abu Bakar r.a dan Umar bin Khattab r.a. Masa kekhalifahannya adalah masa yang paling makmur dan sejahtera. Rakyat hidup dengan berkecukupan. Susah menjumpai orang yang kelaparan. Daerah kekuasaan Islam pun makin luas. Bahkan apabila ada budak yang dijual maka harganya berdasarkan berat timbangannya. Beliau Khalifah yang pertama merenovasi Masjid Al Haram dan Masjid Nabawi, juga dibangun sebuah gedung untuk mengadili suatu perkara.
Dibawah kekhalifahan Usman bin Affan r.a pasukan islam berhasil menaklukan Syria dan Muawiyah yang menjadi gubernurnya. Sedangkan Afrika Utara ditaklukan oleh panglima Amr bin Ash r.a. Selanjutnya daerah Arjan,Persia,Khurasanan dan wilayah Iran. Prestasi gemilang lainnya adalah meresmikan mushaf yang disebut Mushaf Utsmani, yaitu kitab suci Al Qur’an yang dipakai oleh seluruh umat islam diseluruh dunia sekarang ini. Mushaf ini dibuat sebanyak lima buah, satu buah dipegang oleh Khalifah Utsman, yang empat disebar kebeberapa daerah seperti Makkah, Syria, Basrah dan Kufah. Dari Mushaf yang ditulis di zaman Utsman itulah kaum muslimin di seluruh pelosok menyalin dan memperbanyak al-Quran.
Allah SWT hendak menyelamatkan Al-Quran dari segala upaya perubahan. Dia memelihara kemurnian dan kelangsungannya sampai hari kiamat.

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami (pulalah) yang memeliharanya.” (Al Hijr). Utsman bin Affan r.a akan tetap selalu dikenang sebagai orang yang paling berjasa dalam bidang ini.
sumber kisahislamidotcom